Jalan Kaki untuk Ketenangan
Masuk gerbang SMK yang luasnya hampir 6 hektar itu seperti membuka lembaran baru dalam hidup saya. Pindah tugas mengajar membawa serta harapan sederhana yaitu: lebih sering bergerak, lebih sehat. Namun, realita di SMK ini sedikit "menguji" keimanan. Godaan bernama "kantin" yang hadir di setiap sudut, belum lagi pilihan menu menggoda dari jajanan kaki lima dekat ruang guru membuat arah saya bercabang.
Alhasil, langkah kaki saya seringkali berbelok arah, dan hobi sehat ini berpadu mesra dengan hobi jajan. Tak heran kalau angka timbangan terus merangkak naik, bahkan saat hamil pun sempat menyentuh angka yang membuat saya terkejut: 93 kg.
Namun, di balik godaan kuliner, ada secercah harapan. Mengajar semua jurusan dengan jarak kelas yang lumayan ternyata memberikan kesempatan untuk terus bergerak dan disiplin. Moving class menjadi rutinitas yang menyenangkan, tanpa terasa, ribuan langkah terkumpul. Bahkan di hari yang padat dengan lima kelas, smartwatch Huawei kesayangan saya seringkali mencatat hampir 10.000 langkah di sore hari. Sedikit tambahan walking workout, target harian pun tercapai.
Sayangnya, kebiasaan sederhana ini tak selalu disambut positif. Ada saja komentar sinis yang terlontar. Awalnya saya heran, mengapa berjalan kaki saja bisa dianggap aneh? Hiks, Mungkin hanya candaan, tapi di hari-hari tertentu, ucapan-ucapan itu bisa terasa menusuk.
Lebih dari sekadar menjaga kebugaran, ada alasan yang lebih dalam mengapa saya begitu ingin sehat dan panjang umur. Saya ingin mendampingi anak-anak saya hingga mereka dewasa, bahkan hingga memiliki keluarga sendiri. Kehilangan orang tua sebelum saya memiliki anak adalah luka yang mendalam. Terutama saat melahirkan anak pertama, betapa saya merindukan sosok ibu yang bisa memberikan arahan, berbagi pengalaman, dan ikut merawat cucu pertamanya. Saya sempat merasakan bagaimana bingungnya menghadapi hari-hari aneh, hiks.
Mengingat masa-masa awal menjadi ibu, hati saya selalu terenyuh. Tidak ada tempat berbagi cerita yang senyaman ibu kandung. Untungnya, media sosial seperti Instagram menjadi sedikit seperti air mineral. Di sana, saya menemukan komunitas para ibu pejuang ASI yang mengedukasi, memberikan ide, dan menghibur di tengah lelahnya menjalani hari berat. Untungnya, yang saya temukan juga tidak sesat. Ovelove, Ayu Riyanti, Mak Marmet, dan beberapa akun dokter lainnya.
Kembali ke rutinitas jalan kaki
Setiap langkah membawa ketenangan tersendiri. Keringat yang mengucur bukan hanya membakar kalori, tapi juga melepaskan beban pikiran. Ide-ide baru seringkali muncul saat gerak ini maju kedepan, inspirasi datang tanpa diduga. Saya ingat betul, saat PPG dulu, ketika sedang buntu ide untuk mengajar, saya memilih untuk berjalan mengelilingi sekolah, merenung melewati lahan pakan ternak sapi. Sinar matahari dan udara segar, meski tak langsung memberikan jawaban, setidaknya memberikan kelegaan.
Di tahun 2025 ini, semangat untuk terus bergerak dan sehat semakin membara. Dengan tubuh yang sehat, saya bisa terus berkarya, bekerja sama dengan baik, meraih prestasi, dan yang terpenting, memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar saya terutama keluarga inti tercinta. Setiap langkah kaki adalah wujud syukur atas kesehatan dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Yuhu, semoga dimudahkan!
Oya, foto-foto saya diambil di Sirkuit Gokartnya Boyolali yang bisa dipakai jogging dari 06.30 sampai jam 9 dan sore hari 17.00-17.30 ya, siangnya dipakai buat balapan biasanya.
0 Response to "Jalan Kaki untuk Ketenangan"
Post a Comment
Maturnuwun kunjungan dan komentarnya :D